Senin, 17 Maret 2014

Teknik Kerja Radiator Pada Mesin



PRINSIP KERJA RADIATOR PADA MESIN



Dalam setiap kinerja mesin kendaraan selalu menghasilkan getaran dan panas, tidak ada satu pun mesin kendaraan yang berkerja dengan efisiensi yang sempurna (tidak ada getaran mau pun panas). Untuk masalah getaran dapat diredam Shock Absorber mau pun dapat diredam dengan bantalan sedangkan untuk masalah Overheat dapat di atasi dengan menggunakan Radiator. Radiator adalah sebuah alat pendingin yang di dinginkan oleh udara luar untuk radiator sendiri, namun udara luar tidaklah cukup untuk mendinginkan air yang ada di dalam radiator yang suhu dan tekanannya sangat tinggi sehingga dibutuhkan sebuah kipas pendingin (cooling fan) untuk menstabilkan suhu dan tekanan yang di perbolehkan dalam kinerja mesin kendaraan tersebut. Selain kipas radiator, ada  kinerja radiator diantaranya adalah tutup radiator, tangki cadangan (reservoir tank), Pompa air (pump), thermostat, dan fan belt.

Gambar 1 (otomotif plus)


Salah satu konsep perpindahan panas yaitu konveksi yang juga diterapkan dalam sistem kerja radiator. Sistem kerja radiator bermula bila suhu pada thermostat mencapai 800-900C maka air akan di alirkan menggunakan pompa ke water jacket menuju combustion chamber, kemudian air yang masuk ke water jacket di sekeliling combustion chamber akan terpanaskan seperti proses pemanasan air dalam panci. Lalu air yang terkonveksi panas dari combustion chamber akan dialirkan kembali ke radiator dan panas tersebut akan diserap dengan sirip – sirip (fin) secara konduksi karena sirip – sirip tersebut bersentuhan dengan pipa yang mengalirkan air panas yang berasal dari combustion chamber. Setelah suhu air kembali stabil, maka akan kembali dalirkan ke water jacket sedangkan sirip – sirip (fin) yang menjadi panas karena proses konduksi dari pi­­­­­­­­­­­­­pa yang mengalirkan air panas akan didinginkan dengan kipas pendingin. Apabila tekanan dan suhu yang terdapat dalam radiator melebihi batas yang di tentukan, maka relief valve akan membuka dan menghisap air untuk dialirkan melalui overflow pipe ke reservoir tank untuk mengurangi tekanan dan suhu berlebih pada radiator dan bila suhu radiator sudah kembali stabil maka vacum valve akan membuka secara otomatis untuk menghisap udara segar mengganti kevakuman dalam radiator dan air yang berada pada reservoir tank akan kembali terhisap ke dalam radiator.

Sebuah mesin yang harus bekerja dalam waktu yang lama dan beban yang cukup berat sangat memerlukan pendinginan untuk menjaga kestabilan suhu agar kualitas kinerja mesin dan komponen – komponen tidak rusak karena panas. Khususnya mesin mobil yang harus bekerja cukup lama karena kemacetan mengakibatkan sering terjadinya overheat sehingga radiator menjadi komponen yang penting untuk menstabilkan panas di combustion chamber.

Oleh karena itu, Penulis ingin menjabarkan sistem kerja radiator serta proses perpindahan panas yang terjadi pada radiator serta area – area radiator yang mempunyai tingkat panas yang tinggi. Selain itu batas – batas kemampuan radiator untuk menjaga kestabilan suhu dan batas – batas kemampuan sirip radiator untuk menahan aliran air panas yang kembali dari combustion chamber .  Sehingga akan terdapat kesimpulan yang bisa dipergunakan untuk pengoptimalan radiator.

Perpindahan panas adalah proses bertukarnya panas (suhu mau pun energy) yang terjadi pada dua buah benda baik padat mau pun cair yang berbeda temperature atau pun sebuah benda atau tempat yang di ubah suhunya melalui pancaran(tidak langsung) dan dapat dilakukan dengan beberapa proses, yaitu :
    
    1.    Proses Konduksi (Conduction)
Proses perpindahan panas antar benda padat yang jumlahnya lebih dari 2 (dua) dengan suhu yang bervariasi serta secara langsung bersentuhan. Proses ini dapat dilakukan pada benda – benda padat khususnya untuk berbagai dimensi, sebagai berikut:

a.  Satu dimensi (Mono Dimensional): Proses perpindahan panas secara konduksi dalam satu arah (satu garis lurus), atau antara dua titik ( beda temperatur) dalam benda yang masih dalam satu bidang datar , dan berlaku perumusan sebagai berikut:



Dimana:
Qk           : Laju aliran panas dalam Btu/hr atau Watt/s
K        : Koefisien konduktivitas material
A        : Luas penampang tegak lurus aliran panas 1 dimensi (ft2            
  atau m2)
        dT/dX : Gradient penurunan temperature dalam benda padat (F/ft ; K/m)


b.   Dua dimensi (Dwi Dimensional): Proses konduksi yang merambat dalam satu arah (satu garis lurus), atau antara dua titik (beda temperatur) bisa dalam dua bidang yang berlainan dan dalam satu bidang datar


c.    Tiga dimensi (Tri Dimensional): Proses konduksi yang merambat dalam satu arah (satu garis lurus), atau antara dua titik (beda temperatur) bisa dalam ruang (bidang tiga) yang berlainan temperaturnya dan berarah lurus dalam bidang yang berbeda.

     2.    Proses Konveksi (Convection)
Perpindahan panas dalam suatu fluida (cairan atau gas) yang membutuhkan benda fluida perantara dari tempat yang mempunyai temperatur yang berbeda dan berpindah dari temperatur yang lebih tinggi menuju temperatur yang lebih rendah

Sama halnya dengan proses konduksi, proses konveksi juga mempunyai beberapa mekanisme perpindahannya, yaitu:

a.  Satu dimensi (Mono Dimensional): Proses konveksi (perambatan panas dalam fluida) dan dalam satu arah (satu garis lurus), atau antara dua daerah ( beda temperatur) dalam elemen yang masih dalam satu bidang datar.
Laju perpindahan panas konveksi satu dimensi dari suatu permukaan fluida dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

Dimana:
QC          : Laju aliran panas konveksi (Btu/hr atau Watt/s)
Hc­           : Permukaan perpindahan panas atau koefisien panas
  konveksi ( Btu/h ft2 F atau Watt/ s.m2K)
A        : Luas area perpindahan panas (ftatau m2)
∆T      : Beda temperatur permukaan Ts dan T(F atau K)

b.   Bidang datar (Dwi Dimensional): Proses konveksi (perambatan panas dalam fluida) dan dalam satu arah (satu garis lurus), atau antara dua daerah (beda temperatur) bisa dalam dua bidang yang berlainan dalam perantara fluida.

c.    Ruang tiga dimensi (Tri Dimensional)        : Proses konveksi (perambatan panas dalam fluida) dan dalam satu arah (satu garis lurus), atau antara titik elemen (beda temperatur) bisa dalam ruang (bidang tiga) yang berlainan temperatur dan berarah lurus dalam bidang yang berbeda menurut elemen cairan.

    3.    Proses Radiasi (Radiation)
Perpindahan panas secara pancaran (Radiation0 dari suatu elemen ke elemen yang lain dengan atau tanpa perantara (dalam ruang hampa/vaccum) yang mempunyai temperatur lebih tinggi ke suatu elemen/tempat yang mempunyai temperatur yang lebih rendah.
Laju perpindahan panas secara radiasi dalam satu dimensi dari suatu permukaan fluida dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut:




          Dimana :
                    Qr           : Laju bersih aliran panas radiasi ( Btu/hr atau Watt/s)
                    ∑        : Konstanta dimensional ( 0.1714x10-8 Btu/hr ft2 R4 atau
                      
5.67x10-8
   Watt/m2K4)
                    A1       :  Luas perpindahan panas (ft2 atau m2)
                    T1           : Temperatur permukaan yang memancarkan panas (R/K)
                    T2           :Temperatur permukaan yang menutupi (R atau K)
                    ε        :Menggunakan ε(emitansi) khusus untuk perbandingan

Adapun beberapa mekanisme perpindahan panas secara radiasi sebagai berikut:
a.   Satu arah pancaran (Mono Dimensional): Proses radiasi (pancaran panas) dalam satu arah berupa satu garis lurus, atau antara dua titik – titik daerah/tempat yang mempunyai beda temperaturnya dalam ruang atau bidang yang berbeda.

b.   Bidang datar 2-dimensi (Dwi Dimensional): Proses radiasi (pancaran panas) dalam satu arah berupa satu garis lurus, atau antara dua titik – titik daerah/tempat yang mempunyai beda temperaturnya bisa dalam dua bidang yang berlainan dalam tanpa membutuhkan elemen perantara (ruang hampa).

c.    Ruang tiga dimensi (Tri Dimensional)        : Proses radiasi (pancaran panas) dalam tiga arah berupa garis lurus, atau antara dua titik – titik daerah/tempat yang mempunyai beda temperaturnya bisa dalam ruang (bidang tiga) yang berlainan temperaturnya dan mempunyai arah garis lurus bisa dalam bidang yang berbeda menurut dan tanpa elemen perantara.

Dalam proses kerja radiator mobil berlangsung dua buah proses perpindahan panas yaitu perpindahan panas secara konveksi pada saat air radiator dipanaskan di dalam water jacket dan perpindahan panas secara konduksi yang terjadi ketika sirip – sirip (fin) bersinggungan dengan pipa yang membawa air radiator yang panas dan menyerapnya.

Selain persamaan – persamaan dasar yang telah di jelaskan, ada pula rumus yang di butuhkan untuk meghitung perpindahan panas rata – rata dan laju aliran perpindahan panas yang terjadi pada radiator mobil dan berikut persamaannya.

Heat Transfer Rate/Flux (perpindahan panas rata – rata )
  
Dimana :
QX          : Heat transfer rate/flux (Joule/m2.s)
KT       : Konduktivitas termal (Joule/m.0C.s)
∆T      : Perbedaan suhu (0C)
X        : Panjang benda (m)

Sedangkan untuk Heat Flow adalah sebagai berikut :
 
Dimana :
H       : Heat flow/laju aliran panas (J/s)
KT       : Konduktivitas termal (Joule/m.0C.s)
Thot     : Suhu yang lebih tinggi (0C)
Tcold    : Suhu yang lebih rendah (0C)
A        : Luas penampang benda (m2)
t        : Ketebalan benda (m)

Menurut Armento (1979), Menegazzi dan Trapi (1996) ( Rudi S. (1999)) faktor – faktor yang mempengaruhi kinerja dalam proses pendinginan dalam sebuah radiator di antaranya yaitu:

-    Tipe dari system pendinginan (menggunakan udara atau air)
-    Diameter dari water jacket yang digunakan
-    Tipe coolant yang digunakan
-    Thermostat
-    Penutup tekanan
-    Vacum dan Relief Valve
-    Kondisi sirip kipas pendingin(Cooling Fan)
-    Kinerja dari pompa air pendingin

Selain pendapat diatas, masih ada beberapa pendapat untuk mengoptimalkan proses perpindahan panas yang terjadi atau meningkatkan efisiensi dari kinerja radiator diantaranya sebagai berikut:

1.  Penelitian pendahulu yang dilakukan beberapa orang peneliti yang dilaporkan kembali oleh Indra Mamad Gandidi (2001) dan Ximenes (1981) melaporkan hasil eksperimen untuk koefisien perpindahan panas dalam susunan satu dan dua baris pipa oval pada penukar panas sirip plat yang menunjukkan bentuk geometri bulat, diselidiki bahwa penurunan koefisien panas berkurang secara dramatis dibelakang pipa-pipa dibandingkan dengan konfigurasi oval.

2.  Rosman et. al. (1984) secara eksperimen menentukan koefisien perpindahan panas global dan lokal, menggunakan analogi perpindahan panas dan massa untuk susunan satu dan dua baris pipa bulat, diikuti dengan perhitungan numeris distribusi temperatur sirip dan efisiensi sepanjang sirip. Hasilnya menunjukkan bahwa konfigurasi dua baris lebih efisien dari susunan satu baris.

3.  Untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh dari geometri sirip terhadap koefisien perpindahan panas konveksi pada radiator, Rudi S. (1999) melakukan penelitian secara eksperimental dengan cara merubah geometri sirip untuk mendapatkan aliran udara yang melewati inti radiator supaya lebih berputar. Hasil yang didapat menunjukkan peningkatan koefisien perpindahan panas konveksi radiator.



Prinsip Dasar Alat Penukar Panas
Khususnya Radiator


Alat Penukar panas (Heat Exchange/Radiator) adalah sebuah alat yang berfungsi untuk mengubah temperatur suatu fluida dengan proses pertukaran panas/kalor dengan fluida lainnya yang berbeda temperatur. Prinsip alat penukar panas adalah sebagai tempat mencampurkan kedua fluida tersebut namun dibatasi dengan dinding pipa atau sirip – sirip yang di pasangkan pada pipa. Walau pun ada pula metode dengan langsung mencampurkannya namun hal tersebut hanya dapat dapat di gunakan bila kedua fluida yang di gunakan adalah sejenis atau pun memang mempunyai tujuan untuk menukar panas dan mencampurkan kedua sifat dari fluida – fluida tersebut. Proses aliran pertukaran panas yang terjadi sama halnya dengan proses aliran air yaitu panas dari fluida yang bertemperatur tinggi menuju ke fluida yang bertemperatur lebih rendah. Besarnya panas/kalor yang berpindah sangat dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu kecepatan aliran fluida, arah aliran, sifat – sifat fisik dan kimia kedua fluida, kondisi permukaan dan luas bidang penukar/pembatas penukar panas, serta perbedaan temperature antara kedua fluida yang digunakan.

Terdapat dua jenis aliran fluida yang mungkin terjadi yaitu aliran laminar dan aliran turbulen. Pada aliran laminer adalah sebuah aliran yang sifatnya tenang, kecepatannya rendah dimana semua­ partikel – partikelnya mempunyai sifat yang seragam, sedangkan pada aliran turbulen berlawanan dengan laju aliran laminer yaitu setiap partikelnya mempunyai arah dan kecepatan yang berbeda – beda dan tidak seragam, sehingga setiap partikel menyentuh permukaan dan dinding aliran. Jadi dapat disimpulkan bahwa aliran turbulen akan membuat kesempatan bagi fluida untuk menyerap panas pada dinding saluran lebih besar.

Ada beberapa cara untuk memperoleh laju aliran turbulen bagi alat penukar panas yaitu dengan cara membuat alur tempat fluida mengalir yang berliku – liku, membuat dinding permukaan yang kasar, atau dengan mempercepat laju aliran fluida. Bersamaan dengan peningkatan kapasitas perpindahan panas tersebut, maka gesekan atau tumbukan dengan dinding saluran akan meningkat.

Sedangkan keseimbangan energi dalam radiator dapat dideskripsikan sebagai berikut. Satu fluida pada alat penukar panas akan berfungsi sebagai fluida panas yang akan melepaskan sebagian energinya dalam bentuk panas kepada fluida dingin. Apabila fluida dalam pipa bertindak sebagai fluida panas (air), maka fluida dalam sirip-sirip (fin) bertindak sebagai fluida dingin (udara). Terjadinya perbedaan temperatur antara sisi masuk dengan sisi keluar menunjukkan adanya fenomena tersebut.
      
Dengan :
m       : laju aliran massa (kg.s-1)
Cp        : panas spesifik (J.kg-1.0C-1)
Tinlet    : temperatur fluida masuk (0C)
Toutlet  : temperatur fluida keluar (0C)

Dengan mengetahui jenis fluida yang mengalir, laju aliran massa serta tingkat keadaan awal dan keadaan akhir dari fluida tersebut maka kita dapat membuat suatu kesetimbangan energi dan menghitung banyaknya energi yang berpindah. Untuk fluida panas (air) yang mempunyai temperatur awal lebih tinggi dari pada temperatur akhir dapat digambarkan sebagai berikut :
 
                     Gambar.2 Kesetimbangan
        (Ir.Subroto,MT. & Ir.Sartono Putro, 2003:11)


Besarnya energi yang dilepaskan :
Q in = Q lepas + Q out
Q lepas = Q in - Q out
Q lepas = m a . cpa . Tam - m a . cpa . Tak
Q lepas = m a . cpa [ Tam – Tak ]……………………………(7)

Sistem pendingin pada motor bakar, dalam motor bakar piston merupakan bagian yang sangat penting. Motor tidak dapat beroperasi dalam waktu yang lama bila sistem pendinginannya tidak bekerja dengan baik. Berdasarkan sistem pendinginnya, motor bakar piston dapat dibedakan antara motor bakar dengan pendinginan menggunakan air dan motor bakar dengan pendinginan menggunakan udara. Pada motor bakar dengan pendinginan air, air pendingin dialirkan melalui kepala dan dinding silinder serta bagian lainnya yang perlu didinginkan. Air akan menyerap panas dari bagian-bagian tersebut, kemudian mengalir meninggalkan blok mesin menuju radiator. Dengan bantuan kipas udara, udara dihembuskan melalui sirip-sirip  pendingin tersebut. Jadi air pendingin disini tidak berhubungan langsung dengan atmosfir. Sistem pendinginan seperti ini disebut sistem pendinginan tertutup.

Sedangkan prestasi radiator adalah kemampuan dari radiator tersebut untuk melepaskan panas dari air ke udara yang mengalir disekitarnya dengan laju aliran massa air dan udara tertentu persatuan waktu. Prestasi radiator dapat dicari dengan mengamati keadaan masuk dan keluar fluida dari sistem serta mengasumsikan bahwa alirannya merata dan mantap. Untuk menentukan prestasi radiator diperlukan parameter –parameter antara lain sebagai berikut :

1.  Laju aliran massa air, m
2.  Temperatur air masuk, Tam
3.  Temperatur air keluar, Tak
4.  Temperatur udara ruangan


Dari penelitian diatas dapat di ambil hasil yaitu radiator memanfaatkan proses perpindahan panas secara konveksi dan untuk meningkatkan efisiensi dari radiator itu sendiri maka ada beberapa cara di antaranya adalah mengubah material sirip – sirip radiator, mengubah material pipa serta bentuknya, fluida pendingin yang memiliki koefisien penghantar panas yang baik, putaran kipas yang tinggi, pompa yang digunakan untuk mengalirkan fluida, bahkan susunan baris sirip(fin) dan pipa dapat meningkatkan efisiensi dari radiator tersebut.

Perawatan juga sangat diperlukan untuk menjaga kualitas kinerja dari radiator. Perawatan yang dilakukan secara berkala(preventive maintenance) adalah pemeriksaan tingkat fluida yang terdapat pada radiator, sedangkan untuk perawatan lainnya adalah pemeriksaan untuk sirip yang mengembang


          SARAN
Ø  Cek selalu radiator agar radiator dapat bekerja dengan efisien sehingga tidak terjadi kerak, bocor, ataupun kisi – kisi rusak.
Ø  Tutup radiator selalu di perhatikan agar katup – katup nya dapat berfungsi untuk memelihara volume air pendingin dan tekanan dala radiator, karena tutup radiator mempunyai membra untuk pernafasan penguapan.
Ø  Gantilah selang radiator apabila sudah retak – retak ataupun keropos.
Ø  Pada sirip - sirip radiator selalu di lihat agar tidak ada kotoran – kotoran, kerikil ataupun serangga sehingga pada proses pelepasan panas dari radiator ke udara luar akan lancer dan tidak terjadi overheat.
Ø  Untuk campuran air pendingin jangan salah mencampurnya, kurang lebih 50% anti beku dan 50% air, untuk musim dingin anti beku biasa di tambahkan hingga 70%, hal ini di sebabkan anti-freeze juga akan membantu mendinginkan air saat air mencapai titik didihnya yaitu 100oC dan bahkan membantu air pendingin saat suhu belum mencapai temperatur normal.


Referensi :
-          Buku New Step 1, training manual Toyota
-          Bahan Ajar dosen Ir. Prinadi, M.Sc.
-          Otomotif Plus
-          AP Physics – Thermodynamics



1 komentar:

  1. Terimakasih postingannya..
    Ijin buat saya kutip dalam tugas makalah saya.. :)

    BalasHapus