Rabu, 21 Maret 2012

Ilmu Komunikasi



PSA(Public Service Announcement)
BAGIAN DARI POLITIK PENCITRAAN PEMERINTAH



Gamb : Ketika Kita Berpolitik



     LATAR BELAKANG MASALAH

Fenomena PSA televisi, dimana PSA televisi akhir-akhir ini memiliki porsi untuk beriklan  meningkat. (PSA yang berkaitan dengan lembaga pemerintahan). Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah menurun. Politik pencitraan pemerintah SBY.

     PERUMUSAN MASALAH
Apakah iklan-iklan PSA yang berkaitan dengan lembaga pemerintahan memang bertujuan untuk memberikan informasi dan mengeduksi masyarakat atau malah bagian dari politik pencitraan pemerintah?

     TUJUAN & MANFAAT PENELITIAN

Untuk memberikan pemahaman kepada pembaca atau setidaknya memberikan perspektif lain dalam melihat fenomena yang terjadi di sekitar termasuk dalam menyikapi fenomena PSA televisi. Apakah ada sesuatu di balik sesuatu?????

     ISI PENELITIAN

Menurut dewan periklanan di Amerika Serikat yang mensponsori ILM ada beberapa kriteria yang digunakan untuk menentukan sebuah iklan tertentu merupakan iklan layanan masyarakat atau bukan.

      Tidak komersil (contoh: iklan pemakaian helm dalam berkendara)
      Tidak bersifat keagamaan.
      Tidak bersifat politis.
      Berwawasan nasional
      Diperuntukkan untuk semua lapisan masyarakat.
      Diajukan oleh organisasi yang telah diakui dan diterima.
      Dapat diiklankan.
      Mempunyai dampak dan kepentingan tinggi sehingga patut memperoleh dukungan media lokal maupun nasional.

Di Indonesia tidak ada organisasi khusus yang dibentuk untuk menangani ILM. Pada umumnya FILM dibuat secara sendiri-sendiri oleh biro iklan yang bekerja sama dengan media dan pengiklan. Hal ini mengakibatkan kurangnya komitmen dan sinergi dalam merumuskan iklan, biaya, serta pesan yang ingin disampaikan sehingga ILM tidak dilakukan secara rutin. Selain itu FILM juga dikenakan pajak iklan, walalupun ruang dan waktunya disumbangkan oleh media


KESIMPULAN

Gaya politik pencitraan memang sangat menonjolkan “tampilan luar”, yaitu gaya berpidato, ekspresi emosional, pandai bersandiwara, dan pintar membeberkan angka-angka fantastis. Ketika sedang berpidato di depan publik, maka penampilannya akan seperti pemain sinetron yang pintar mengundang air mata penonton, ataupun “tukang jual obat” yang pintar menipu calon pembeli.


Sumber Gambar :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar